Menjadi pemimpin Perlu upaya dan
pendekatan agar bawahan dapat dengan suka rela mendukung efektivitas
Anda. Bagaimana caranya?
pemimpin yang dapat
mempengaruhi bawahannya secara positif
sehingga bawahan dengan senang
hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Meski
pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah,
Sejatinya masih ada faktor
lain yang dapat mempengaruhi efektifitas seorang pemimpin, yakni sikap
bawahannya.(akan di ulas pada halaman berikutnya)
Komitmen
Salah satu ukuran efektif tidaknya seorang pemimpin ditunjukkan oleh
komitmennya terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi. Tujuan
organisasi biasanya ditunjukkan dengan visi yang ingin dicapai
perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan nilai-nilai organisasi ditunjukkan dengan
perilaku/ tindakan yang perlu dilakukan dalam mencapai tujuan organisasi
tersebut.
Integritas
Integritas merupakan
kesesuaian tindakan pemimpin dengan prinsip atau paham yang dianut
perusahaan. Konsistensi integritas ini penting mengingat organisasi
adalah kumpulan karyawan yang memilih karakteristik beda tapi memiliki
tujuan dan nilai yang sama.
Motivasi
Selain
memotivasi diri sendiri, pemimpin juga perlu memotivasi bawahan dalam
melakukan pekerjaannya. Seorang pemimpin, tanpa dukungan bawahan tidak
akan pernah mencapai tujuan perusahaan. Disini peran pemimpin adalah
menunjukkan dukungan dan respek terhadap apa yang telah dilakukan
bawahan.
Menghargai Perbedaan
Menghargai
perbedaan adalah salah satu tindakan yang paling sulit dilakukan oleh
seorang pemimpin. Hal yang perlu disadari adalah bahwa tidak semua
'kemauan' pemimpin benar. Oleh karena itu, pendapat dari bawahan adalah
penting untuk didengarkan. Bila pendapat mereka dianggap tidak relevan,
kemukakan alasan yang masuk akal. Namun bila pendapat mereka benar,
harus pula diakui kebenarannya.
Sedikit Saran/Masukan Tuk Seorang Pemingpin
Jadilah Pendengar yang Baik
Carl
Rogers, seorang pakar di bidang psikologi, pernah berkata bahwa
penghalang yang terbesar untuk melakukan komunikasi pribadi adalah
ketidaksanggupan seseorang untuk mendengarkan dengan baik, dengan penuh
pengertian dan perhatian kepada orang lain. Jika anda diberi tugas untuk
membimbing dan melatih seseorang maka hal ini merupakan salah satu hal
terpenting yang harus diingat.
Ketika anda sedang berbicara
dengan bawahan anda jagalah agar anda tidak terlalu banyak bicara,
melainkan lebih banyak mendengarkan keluhan dan masukan dari bawahan
anda. Kesediaan untuk mendengar akan memberi kesempatan kepada bawahan
untuk mengutarakan keinginan dan pendapatnya.
Dengan mendengar
berarti anda memperhatikannya, anda mempunyai suatu perhatian yang
konstruktif mengenai masalah yang dihadapi olehnya, di mana mungkin anda
selaku atasan mempunyai alternatif solusi yang dibutuhkan orang
tersebut.
Dengan demikian akan tercipta rasa aman dan nyaman
sehingga bawahan anda lebih mau terbuka terhadap saran-saran yang
diberikan. Selain itu mendengarkan seseorang yang secara bebas berbicara
tentang dirinya sendiri merupakan jalan terbaik untuk mengenal lebih
jauh siapa lawan bicara kita tersebut. Meskipun demikian mendengarkan
tidaklah selalu berarti bahwa anda percaya terhadap segala yang anda
dengar. Tentu saja untuk dapat menjadi pendengar yang baik dibutuhkan
kesabaran dan kerendahan hati.
Kita sering melakukan kesalahan
dalam menginterpretasi dan menilai hasil kerja seseorang sebagai akibat
dari suatu pandangan dan pengetahuan yang dangkal sekali tentang
pekerjaan orang tersebut. Seringkali kita menjumpai seorang atasan yang
mengharapkan bawahannya melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan
merupakan kapasitasnya. Jika mengambil perumpamaan hal tersebut adalah
ibarat mengharapkan pohon mangga menghasilkan buah durian. Mustahil
bukan? Akibatnya tidak sedikit bawahan yang menjadi frustrasi dan bahkan
tidak "respect" terhadap atasan karena atasan demikian dinilai tidak
tahu apa pekerjaan bawahannya sebenarnya (padahal ia seharusnya tahu).
Jika
anda adalah seorang atasan maka sudah seharusnya anda mengetahui apa
yang wajib dan baik untuk dikerjakan atau diselesaikan bawahan anda.
Anda juga harus dapat mengetahui secara pasti apakah bawahan anda
mengerjakan tugas dengan suatu cara atau jalan yang aman yang dapat
diterima oleh perusahaan. Jika ternyata bawahan anda dapat menyelesaikan
tugas-tugas dengan cara-cara yang dapat diterima tetapi tidak sesuai
dengan cara anda, maka sedapat mungkin biarlah ia menggunakan cara
tersebut.
Jangan cepat-cepat mengkritik atau pun memaksanya untuk
melakukan menurut cara anda. Sebaliknya jika ia temyata tidak dapat
menyelesaikan tugasnya, maka anda perlu melakukan suatu perubahan.
Langkah awal dalam melakukan perubahan tersebut adalah dengan membuat
suatu persetujuan antara anda dan bawahan mengenai hal-hal yang mendasar
dari pekerjaan tersebut.
Kenali Bawahan Anda
Sebagai
atasan, anda harus mengetahui kesanggupan dan bakat-bakat anak buah
anda dan menolong mereka untuk menggunakan kemampuannya untuk disalurkan
dalam pekerjaan. Anda juga dituntut untuk mendorong usaha-usaha
perbaikan diri bawahan, mengerti kebutuhan dan keinginan mereka, dsb.
Sebagai contoh: anda harus dapat membedakan apakah bawahan anda lebih
tertarik pada kesempatan dan tantangan karir atau pada materi seperti
uang atau lebih pada status. Jika anda dapat mengindentifikasi hal ini
maka akan lebih mudah bagi anda untuk mengarahkan dan memotivasi bawahan
anda.
Anda sudah semestinya anda mengenal bawahan anda, jika
tidak secara pribadi sekurang-kurangnya anda mengenali karakter-karakter
penting yang berguna bagi produktivitas bawahan tersebut. Beberapa
supervisor / manajer merasa takut untuk mengenal lebih dekat bawahannya,
karena dengan kedekatannya itu maka mereka akan menjadi terlalu lunak
dan salah dalam menilai prestasi bawahan. Pendapat semacam itu
sebenarnya merupakan suatu kekeliruan, karena mengenali seseorang dan
menghargai kepribadian serta keunikan yang dimilikinya tidaklah berarti
bahwa anda tidak menuntut ia untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai
dengan aturan yang berlaku.
Kenali Perlombaan yang Ingin Anda Lakukan
Sebagai
pejabat baru dan masih berada dalam semangat yang menyala-nyala untuk
mendorong dan memotivasi bawahan anda, anda mungkin terus memacu bawahan
anda untuk melakukan sesuatu, yang sesungguhnya tidak terlalu
signifikan. Hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar karena anda
mungkin masih dalam tahap ingin menunjukkan jati diri sebagai atasan
yang pantas menduduki jabatan tersebut. Namun demikian kondisi ini harus
benar-benar diwaspadai mengingat bahwa tidak ada seorang pun bawahan
yang mampu bekerja dalam kondisi yang tetap maksimal setiap hari. Jadi
janganlah anda terus-menerus berteriak "awas ada macan", sampai anak
buah anda kelelahan dan akhirnya ketika "macan" yang sesungguhnya tiba
anak buah anda sudah kehabisan tenaga dan tidak memiliki semangat lagi.
Selain
itu bawahan anda mungkin akan merasa bosan dan jengkel karena
dorongan-dorongan anda untuk bekerja lebih giat dan bersemangat,
sementara mereka mengetahui bahwa pekerjaan yang dikerjakan tersebut
tidak begitu penting. Contoh: anda memberikan tugas atau proyek khusus
kepada bawahan anda tanpa ada kejelasan apa tindak lanjutnya, kapan
diaplikasikan dan tidak ada target pasar yang jelas, sementara bawahan
anda tersebut masih harus mengerjakan tugas-tugas rutin yang sudah
sangat jelas manfaatnya bagi perusahaan.
Oleh karena itu amat
sangat penting bagi anda selaku atasan untuk dapat menentukan prioritas
pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga tidak ada kegiatan yang
terlihat "mubazir" dan hanya sekedar membuat bawahan anda terlihat
sibuk. Tanpa kemampuan untuk menentukan hal ini maka bawahan anda akan
cenderung tidak tidak bisa membedakan antara suatu pekerjaan yang urgent
dengan yang rutin karena setiap hari mereka selalu dikejar-kejar.
Gunakan Peristiwa-Peristiwa Khusus
Dalam
aktivitas kerja selalu saja ada kejadian-kejadian atau
peristiwa-peristiwa khusus yang dapat dijadikan bahan atau contoh untuk
membangun semangat kerja bawahan anda. Contoh: Keberhasilan divisi anda
dalam memenangkan suatu proyek atau keberhasilan divisi dalam memangkas
biaya produksi atau pun penghargaan yang diberikan oleh media massa
(masyarakat) kepada teamwork anda. Sebaliknya ada juga
peristiwa-peristiwa dimana anda dan bawahan anda mungkin mengalami
kegagalan.
Gunakan keberhasilan ataupun kegagalan tersebut
sebagai bahan pembelajaran. Tunjukkan kepada bawahan anda faktor-faktor
apa saja yang membuat divisi anda meraih sukses. Dan tunjukkan juga
faktor-faktor atau perilaku apa saja yang menyebabkan divisi anda
mengalami kegagalan. Dalam menyikapi kegagalan, carilah alternatif
solusi secara bersama-sama, usahakan banyak ide yang dapat diutarakan,
dan jangan sekali-kali mematahkan semangat bawahan anda sebab bila ia
patah semangat maka banyak hal yang tidak akan tercapai. Sebagai atasan,
anda harus jeli memanfaatkan peristiwa yang ada untuk mengarahkan
bawahan da1am memahami dan menghadapi fakta atau realitas dalam
pekerjaan sehari-hari.
Berikan Kesempatan
Kesalahan-kesalahan
yang dilakukan ba-wahan dalam bekerja jarang sekali berakibat fatal.
Artinya dari kesekian banyak kesalahan yang mungkin dilakukan masih
terdapat peluang untuk diperbaiki dan diberikan kesempatan untuk
berubah. Oleh karena itu, janganlah semata-mata memberikan hukuman
kepada bawahan yang kebetulan melakukan kesalahan, tapi tolonglah dia
dan berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya.
"Jika
Anda memang sudah menyerah terhadap kemungkinan perbaikan dari seorang
bawahan, yaitu jika anda merasa bahwa pekerjaannya sangat tidak
memuaskan dan dia tidak mungkin lagi dapat memaksimalkan pekerjaan
tersebut (meski sudah dilakukan bimbingan dan pelatihan), janganlah
berpura-pura menolongnya dan hentikanlah usaha-usaha melakukan kritik
yang konstruktif, karena semua itu tidak akan berguna lagi. Katakanlah
kepadanya dengan terus terang bahwa pekerjaan yang dia lakukan tidak
berhasil. Kemudian sarankan suatu mutasi ke bidang lain yang lebih
sesuai, jika hal itu memungkinkan, atau berhentikan orang tersebut
melalui prosedur yang berlaku.
Delegasikan Tanggung jawab
Salah
satu hal penting dari sifat-sifat seorang atasan adalah bagaimana ia
dapat mendelegasikan atau mewakilkan tanggung-jawab dan wewenang kepada
bawahannya. Seorang atasan yang buruk tidak akan pernah mau dan mampu
mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang kepada bawahannya. Sebaliknya
atasan yang lemah akan terlalu mudah mendelegasikan tanpa adanya
pengawasan atau kontrol yang cukup. Sementara itu jika anda ingin
menjadi atasan yang yang baik maka delegasikan tanggung jawah dan
wewenang anda dengan suatu catatan atau agenda yang memuat waktu
penyelesaian pekerjaan tersebut. Mintalah laporan perkembangan pekerjaan
pada waktu-waktu tertentu dan lakukan tindakan-tindakan yang positif
jika permasalahan muncul atau terjadi.
Patuhi Batas-batas Sebagai Atasan
Anda
harus menyadari benar kemampuan anda, anda tidak dapat mengubah semua
hal sesuai dengan keinginan anda. Anda harus menyadari bahwa anda
bukanlah dokter bedah otak, yang dapat mengoperasi setiap orang sesuka
hati anda, anda juga bukanlah pendeta / kiai bagi bawahan anda dan anda
juga bukan ahli psikologi yang dapat menyembuhkan berbagai masalah
psikologisnya. Ingatlah bahwasanya ada tiga jalan yang fundamental untuk
mengubah seseorang yaitu tobat keagamaan, psikoterapi dan operasi otak.
Anda
adalah seorang pemimpin, janganlah memaksakan diri untuk melakukan
ketiga hal tersebut. Salah-salah anda akan menjadi korbannya. Selain
beberapa hal di atas pasti masih banyak cara untuk meningkatkan
kemampuan managerial anda dalam meningkatkan kinerja para bawahan anda.
Dengan tulisan ini kami berharap bahwa hal-hal di atas dapat memperkaya
wawasan anda sehingga lebih percaya diri dalam membimbing bawahan anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar